Posts Subscribe to This BlogComments

Follow Us

Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

Berdoa Punya Manfaat Positif untuk Kesehatan

Untuk orang-orang tertentu, agama dan obat tidak terlihat memilki kaitan. Namun, memiliki kepercayaan dan harapan pada Tuhan, ternyata bisa membawa manfaat kesehatan yang tidak terduga.

Menurut Torgeir Sorensen, kandidat PhD dari School of Theology and Religious Psychology Center di Inland Hospital mengatakan, penelitian baru tentang hal ini mengungkap bahwa lebih lama menghabiskan waktu di gereja, bisa menurunkan tekanan darah, bahkan ketika beberapa kemungkinan lain turut dipertimbangkan.

Dalam penelitian tersebut, pengunjung gereja dipilih sebagai variabel percobaan, yang mewakili pengaruh aktivitas religius terhadap tekanan darah dan sebagai variabel yang mengindikasikan kondisi kesehatan seluruhnya. Demikian diwartakan InternationalBusinessTimes, Jumat (30/12/2011).

Sedangkan dalam penelitian lain yang dilakukan University of California, pada 1999 yang lalu, peneliti menemukan bahwa kaum Mormon (gerakan spiritual Later day saint) termasuk ke dalam daftar orang-orang paling sehat dan berumur 9 sampai 12 tahun lebih panjang, ketimbang orang-orang lain di Amerika Serikat (AS).

Hal ini merupakan efek dari pantangan sederhana yang jadi gaya hidup mereka, misalnya, tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, tidak minum teh atau kopi. Selain itu, ketaatan beragama juga membuat dipatuhinya pantangan untuk melakukan seks pra-nikah, sehingga mencegah penularan penyakit seksual, serta puasa yang juga bermanfaat bagi kesehatan.

Ketika sampai pada soal doa, para ahli menemukan bahwa berdoa dan spiritualitas terhubung dengan kesehatan yang lebih baik. Misalnya, berkurangnya risiko hipertensi, lebih banyak perasaan positif, berkurangnya depresi, berkurangnya stres, psikologis lebih seimbang, dan kemampuan yang lebih baik dalam menangani tekanan
»»  Read More

Selasa, 08 November 2011

Perilaku Anda di Facebook yang Buat Pria Ilfil

Kesan pertama tidak hanya ditentukan saat pertemuan langsung saja. Dari profil Facebook Anda pun, seseorang dapat menilai Anda. Untuk itu waspadalah karena ada beberapa perilaku wanita di Facebook yang malah membuat pria ilfil.

Situs Yourtango melakukan penelitian ke beberapa pria dan mengaitkannya dengan perilaku wanita dengan Facebooknya. Situs yang banyak membahas hubungan percintaan itu menemukan fakta bahwa ada beberapa perilaku wanita di Facebook yang buat mereka ilfil atau hilangnya ketertarikan. Apa saja? Ini dia enam di antaranya:

Menulis Status Kemarahan yang Ditujukan Pada Mantan Kekasih
Perilaku ini membuat Anda terlihat kekanakan, pemarah dan pengeluh. Tentu si pria tidak ingin berakhir sama dengan mantan Anda yang dijelek-jelekan di Facebook.

Memasang Foto dengan Bibir yang Dimajukan
Jika Anda berharap memasang foto dengan bibir yang dimajukan akan dianggap seksi, Anda salah. Dalam penelitian tersebut menyebutkan, pria malah menganggap Anda sebagai wanita murahan yang berusaha agar terlihat seksi.

Sering Gonta-ganti Status
Terlalu sering berganti status kerap dicap buruk oleh pria. Mungkin Anda ingin terlihat keren dengan memberitahu setiap keberadaan Anda lewat update status, tapi ini malah menyiratkan Anda pribadi yang mencari perhatian dan tidak memiliki privasi. Tentu pria akan takut jika nantinya, kehidupannya juga ikut diekspos di Facebook wanitanya.

Anda Memberi 'Like' Terhadap Segala Hal
Pria senang jika wanita memiliki ketertarikan akan suatu hal. Di Facebook sendiri, untuk menyalurkan sikap ketertarikan bisa dengan memberi 'Like' misalnya ke sebuah Fan Page, status atau foto. Namun jika Anda memberikan 'Like' untuk berbagai hal, mulai dari selebriti, band, online-shop sampai brand-brand makanan, maka pria akan menilai Anda sebagai wanita yang tidak berpendirian dan kurang kerjaan.

Memiliki Ribuan Teman
Tidak masalah berteman di Facebook dengan orang yang memang Anda kenal. Akan tetapi jika si pria menemukan teman-temannya bahkan ibunya yang sama sekali Anda belum kenal namun di 'add Friend' juga oleh Anda, maka dia bisa menjadi takut dan merasa hidupnya sedang diintai oleh Anda.

Terlalu Sering Bermain Games di Facebook
Bermain Mafia Wars, Farmville atau Sims Social memang menyenangkan. Namun jika Anda terlalu aktif bermain di game-game tersebut maka Anda bisa mendapat imej buruk. Pria akan menganggap hidup Anda hanya untuk bermain online dan mungkin dia akan berasumsi Anda orang yang sulit bersosialisasi.
»»  Read More

Kamis, 03 November 2011

Bahaya Terlalu Sering Curhat ke Sahabat

Anda pasti sering menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabat wanita sambil makan malam maupun minum kopi. Obrolan yang dilakukan pun seputar bos yang menyebalkan di kantor, masalah percintaan, gosip, dan berbagai macam topik lainnya.

Tapi berhati-hatilah, adakalanya berbagi tentang masalah Anda kepada sahabat tidak selalu bisa mengurangi beban anda, tapi juga bisa membahayakan Anda. Dilansir oleh idiva, berikut beberapa hal yang membuat curhat kepada sahabat bisa berbalik menjadi bumerang bagi Anda.

1. Ketenangan Sesaat
Sebagian besar dari kita selalu pergi mencari sahabat ketika sedang mengalami masalah. Ketika Anda berbagi kekhawatiran dengan mereka, Anda akan cenderung merasa dekat dan ikatan intim ini membangun rasa percaya diri. Curhat tentang masalah yang kita hadapi akan membuat kita merasa lebih baik.

Hal ini terjadi karena ketika wanita membicarakan sebuah masalah, tubuh akan memicu reaksi kimia di otak yang reaksinya mirip dengan efek mengonsumsi heroin sampai 'melayang'. Perasaan menjadi lebih baik ketika kita mendapatkan dukungan dari orang lain.

Mungkin menuangkan isi hati anda ketika tertekan kepada sahabat akan tampak seperti hal yang wajar untuk dilakukan tetapi ini bukanlah cara yang paling bijak, karena efek nyaman yang berlebihan ini akan membuat Anda untuk terus bercerita dan membongkar segala sesuatunya tentang diri Anda. Hal ini belum tentu ingin didengar oleh sahabat Anda.

2. Masalah Membesar
Menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh University of Missouri, kecenderungan wanita curhat secara berlebihan dan terus-menerus, akan membuat masalah mereka membesar. Hal ini disebabkan karena rasa khawatir membuat mereka terjebak dalam pikiran negatif, yang kemudian menjadi rasa panik, depresi dan stres. Terlebih lagi, dalam kasus-kasus tertentu, hal ini berubah menjadi kecemasan emosional yang tidak sehat.

3. Tidak Pernah Puas
Saat seorang wanita membicarakan masalah mereka, sulit untuk menempatkan dua sudut pandang masalah secara bersamaan. Efek jeleknya adalah Anda bisa membuat sahabat menjadi tidak nyaman. Neeha Pathak, seorang profesional di bidang media setuju dengan hal tersebut, "Saya biasanya melakukan sesi curhat dengan dua teman dekat saya. Saya memperhatikan kadang-kadang saya merasa lebih buruk setelah berbicara dengan mereka tentang masalah saya".

Ketika Anda berbicara tentang masalah, ada kecenderungan menganalisa situasi secara berlebihan dan meminta teman-teman yang berbeda memberikan saran untuk masalah yang sama, yang sewaktu-waktu bisa membuat Anda merasa lebih cemas. Saran dari satu teman tidak akan pernah memuaskan Anda dan anda terus-menerus meminta saran lebih banyak. Selama proses inilah, Anda akan selalu berbicara tentang masalah tersebut.

4. Menular
Fenomena ini sangat umum di antara wanita, psikolog menyebutnya 'penularan emosi perilaku' atau 'kecemasan menular' dimana pikiran-pikiran negatif seseorang dapat mempengaruhi suasana hati orang lain. Percaya atau tidak, penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang yang terus-menerus berhubungan dengan orang lain yang menderita depresi, cenderung ikutan depresi. Sementara para pria berpikir, curhat hanya akan membuat masalah lebih besar sehingga mereka memilih melakukan kegiatan lain untuk mengalihkan pikiran mereka.
»»  Read More

Rabu, 02 November 2011

Facebook Bisa Buat Depresi ??

Apakah Anda termasuk orang yang gemar meng-update status Twitter dan membuka akun Facebook tiap saat? Jika ya, berhati-hatilah karena menurut penelitian, kebiasaan tersebut bisa mempengaruhi kesehatan Anda. Misalnya saja seperti, kecanduan akan obat-obatan terlarang dan alkohol, hingga depresi dan melambatnya keterampilan kognitif seseorang.

Namun peneliti juga mengatakan bahwa situs jejaring sosial juga memberikan efek positif. Berikut beberapa dampak positif serta negatif Facebook dan Twitter, seperti yang dikutip dari healthmeup.

1. Jumlah Teman di Facebook Berkaitan dengan Struktur Otak
Menurut penelitian terbaru di University College London, orang-orang yang punya banyak teman di jejaring sosial cenderung memiliki grey matter atau area di otak besar yang lebih besar. Bagian otak ini berhubungan dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Dilihat dari ukuran atau volume grey matter, maka seharusnya perbedaan jumlah teman akan teramati baik di internet maupun di dunia nyata. Asumsi ini juga terbukti benar dalam penelitian itu, berdasarkan hasil pengamatan terhadap sedikitnya 125 mahasiswa.

2. Facebook Bisa Buat Depresi
Penelitian yang dilakukan oleh Stony Brook University, New York, mengatakan bahwa kebiasaan mengakses situs jejaring sosial dapat menyebabkan depresi. Penelitian tersebut melibatkan sekelompok anak perempuan berusia 13 tahun yang diwawancara sebelum dan sesudah membuka akun Facebook selama setahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang suka menceritakan kehidupan dan pikiran mereka melalui Facebook, memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi.

3. Dampak Negatif Pada Remaja & Anak-anak
Penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Pediatrics menemukan bahwa sosial media dapat meningkatkan risiko tidak percaya diri dan stres pada anak-anak serta remaja. Selain itu peneliti mengatakan bahwa mereka yang mengakses Facebook lebih dari dua jam disebut sebagai pengguna berat. Sebanyak 18 persen pria pengguna berat sosial media dinyatakan memiliki kelebihan berat badan dan 59 persen wanita pengguna berat sosial media, mempunyai kebiasaan sulit tidur.

4. Meningkatkan Risiko Gangguan Tulang
Facebook seringkali dijadikan penyebab utama mengenai masalah tulang pada anak. Penelitian dalam British Medical Journal menemukan bahwa situs jejaring sosial dapat meningkatkan risiko kekurangan vitamin D yang akibatnya bisa membuat tulang mudah rapuh. Hal ini karena Facebook membuat anak-anak jadi malas bergerak karena terlampau asik mengakses situs tersebut.

5. Menularkan Perasaan Bahagia
Peneliti dari Harvard Medical School and the University of California, San Diego mengatakan bahwa kebahagiaan bersifat kolektif dan menular di kalangan jaringan sosial. Studi yang melibatkan 5.000 orang selama 2 tahun itu pun dilakukan untuk mengetahui efek bahagia seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya. Peneliti juga menemukan bahwa orang yang menjadi pusat perhatian dalam jaringan sosial cenderung lebih bahagia diantara yang lainnya.

"Dengan semakin banyak orang yang mengelilinginya, risiko penularan bahagia pun akan semakin banyak," ujar Nicholas Christakis, profesor dari Harvard Medical School.

Dalam situs jejaring sosial atau Facebook misalnya, orang yang paling banyak dikomentari statusnya adalah orang yang biasa menjadi pusat perhatian. Mereka pun akan lebih bahagia karena mendapat perhatian dan komentar dari orang banyak.
»»  Read More

Minggu, 25 September 2011

Saat Menilai Orang, Kepribadian Seseorang Terlihat

Orang yang memberikan penilaian positif pada orang lain menunjukkan dirinya punya kepribadian yang positif. Sebaliknya orang yang sering menilai negatif pertanda tidak mau dikalahkan dan anti sosial.

Kecenderungan seseorang untuk menggambarkan orang lain dalam ucapan positif merupakan indikator penting dari kepribadian positif orang itu sendiri.

Peneliti menemukan hubungan yang sangat kuat antara menilai secara positif dengan perilaku bersemangat, bahagia, baik hati, ramah, stabil secara emosi.

"Persepsi Anda mengenai orang lain sangat mengungkapkan kepribadian Anda," kata Profesor Dustin Wood, seorang psikolog di Wake Forest University, North Carolina, yang juga merupakan pemimpin dalam penelitian tersebut seperti dikutip dari Telegraph, Rabu, (4/8/2010).

Peneliti menemukan bahwa cara seseorang menilai orang lain sama saja dengan menceritakan kesehatan mental diri mereka sendiri, seperti halnya menggambarkan orang yang mereka bicarakan.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa seberapa positif Anda melihat orang lain menunjukkan seberapa puas Anda dengan kehidupan Anda, dan seberapa banyak Anda disukai oleh orang lain.

Berlawanan dengan hal itu, perspektif negatif mengenai orang lain dihubungkan dengan tingginya tingat narsisisme dan perilaku anti-sosial.

"Kepribadian negatif dihubungkan dengan cara melihat orang lain secara negatif. Kecenderungan dalam melihat orang lain secara negatif mengindikasikan kemungkinan besar depresi dan berbagai gangguan kepribadian," kata Profesor Wood.

Profesor Wood menjelaskan, persepsi negatif mengenai orang lain mungkin menandakan beberapa gangguan kepribadian. Penelitian tersebut dimuat dalam the Journal of Personality and Social Psychology.

Persepsi yang diutarakan seseorang mengenai orang lain tidak selalu berarti mengungkapkan karakteristiknya sendiri, jika persepsi (baik persepsi positif maupun negatif) yang disampaikan tersebut disetujui atau dibenarkan oleh orang lain.

Namun, memang tidak menutup kemungkinan bahwa orang tersebut turut memiliki salah satu atau beberapa hal dari yang dibicarakannya.

»»  Read More

Senin, 22 Agustus 2011

1000 Hari Pertama sang Bayi Kunci Masa Depan Sepanjang Hidup

Banyak orangtua yang berjuang keras
dan memberikan sekolah terbaik
buat si anak demi masa
depannya. Tapi sebenarnya
kunci untuk kehidupan masa
depan si anak bukan saat ia mulai sekolah melainkan di awal-
awal hidupnya yakni 1000 hari
pertama sejak di dalam
kandungan (9 bulan) hingga ia
berumur 2 tahun. Periode 1000 hari pertama
manusia itu, secara permanen
dapat mempengaruhi kesehatan
dan peluang si anak di masa
depan dengan tubuh sehatnya.
Periode tersebut menentukan apakah di masa depan si anak
akan terkena diabetes,
kelebihan berat badan hingga
serangan jantung. Teori ini dikembangkan setelah
puluhan tahun diteliti oleh
Profesor David Barker dan
rekannya di Southampton
University. Profesor Barker
menemukan ada serangkaian tahapan yang kritis dalam
perkembangan anak. Jika
tahapan tersebut dilalui tidak
sempurna maka akibatnya akan
timbul di kemudian hari saat
anak dewasa dan tua. Profesor Barker percaya
banyak masalah kesehatan
yang muncul bisa ditelusuri
kembali dengan melihat riwayat
saat si anak di dalam rahim
atau perkembangannya yang buruk di 2 tahun usia
pertamanya. Dicontohkannya, ibu yang
mengonsumsi gizi buruk saat
hamil, merokok, stres atau
minum obat-obatan akan
mempengaruhi seberapa baik
plasenta bekerja dan bagaimana kondisi berat badan bayinya
saat lahir. Hasil penelitiannya menunjukkan
bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2,5 kg maka
peluangnya terkenapenyakit jantung di kemudian hari, 2 kali
lebih besar dibandingkan bayi
yang lahir dengan berat sampai
4,2 Kg. Menurut Profesor Barker ketika
makanan di rahim tidak
mencukupi, itu sangat
mempengaruhi pertumbuhan
awal otak si janin dan membuat
jantungnya melemah karena berkurangnya aliran darah. Lalu
bibit-bibit diabetes juga akan
muncul sebelum proses kelahiran
karena sel-sel pankreas yang
berfungsi membuat insulin,
perkembangannnya ada di dalam rahim. Kondisi di dalam
rahim juga akan mempengaruhi
berat badan si anak di masa
mendatang. Profesor Barker mengatakan
banyak faktor-faktor yang
terbentuk sejak dini yang tidak
bisa diubah atau dibatalkan.
Maka itu penting untuk menjaga
kesehatan perempuan dan makan dengan baik agar
generasi berikutnya tumbuh
dengan baik. "Bayi hidup dari tubuh ibu
selama kehamilan, jadi ini adalah
tentang membangun tubuh bayi
agar dapat hidup lebih baik,"
kata Profesor Barker seperti
dilansir dari dailymail, Rabu (17/8/2011). Itulah mengapa ibu hamil harus
benar-benar sehat agar bisa
juga memberikan air susu ibu
(ASI) ke bayinya. ASI adalah
makanan terbaik baik selama 2
tahun masa pertumbuhan badan dan otaknya
»»  Read More

Minggu, 21 Agustus 2011

Di Balik 5 Tahun Usia Pernikahan

SUKA duka dalam mengarungi rumah tangga selama lima
tahun atau lebih tentu lebih
"semarak", bukan? Apalagi
umumnya dalam rentang lima
tahun, Moms and Dads sudah
memiliki satu atau dua orang buah hati. Meski ada yang mengatakan
usia rawan pernikahan itu di
bawah lima tahun, belum tentu
segalanya aman, tenteram,
sentosa jika berhasil melewati
lima tahun tersebut. Menurut Dr Adriana S.
Ginanjar, M.S, Staf Pengajar
Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia, ada sederet masalah
yang kerap terjadi dalam lima
tahun masa pernikahan, antara lain masalah
penyesuaian dan kecocokan
satu sama lain, bertambahnya
tuntutan peran (misal sebagai
istri-ibu-wanita yang bekerja),
adanya budaya di Indonesia yang mengikutsertakan
keluarga besar (metua, adik
atau kakak ipar dan lainnya),
perbedaan adat istiadat,
harapan keuangan dan
pengelolaannya, perbedaan harapan yang kurang
dikomunikasikan sejak awal
pernikahan. Pentingnya kerja sama Harus diakui, pada awal lima
tahun pernikahan akan
ditemukan beragam masalah
yang berasal dari dalam
keluarga. Ini wajar. Karena terkadang
apa yang diharapkan pada
awal pernikahan seperti
setelah bulan madu akan
harmonis, mempunyai keluarga
kecil bahagia, minim konflik, dan lainnya tak seindah
kenyataan. Untuk itu,
dibutuhkan kerja sama dan
saling mendukung agar dapat
bertahan. Hindari topik sensitif
dengan nada negatif Berbeda pendapat dengan
pasangan itu lumrah, tinggal
bagaimana Anda menyikapinya.
Cobalah memahami perbedaan
laki-laki dan perempuan, mulai
dari pola pikir, arti uang bagi suami/istri, makna hubungan
intim dan sebagainya. Interpretasi Moms and Dads
perlu disamakan agar tidak
terjadi kesalahpahaman.
Bijaklah dalam menghadapi
topik-topik sensitif dalam
rumah tangga. Misal suami dan istri memiliki perbedaan
pendapatan yang besar,
hindari mengulas uang! Selain itu, topik sensitif lainnya
ialah keluarga besar, hubungan
intim, peran istri yang sudah
keibuan alias lebih fokus pada
anak. Jadi, penting bagi Anda berlaku
sebagai pendengar yang baik
tanpa mencela pasangan, agar
ia merasa dibutuhkan serta
dihargai. Hadapi, realistis dan
toleran Saat masih lajang, tak sedikit
wanita yang memiliki 'impian'
pernikahan yang indah bak
cerita dongeng atau
perjalanan rumah tangga
semulus batu pualam. Hmmm, tentu bukan hal bijak untuk
dipercayai ya! Selain menyatukan semua yang
berbeda menjadi kesatuan,
pernikahan -menurut budaya
di Indonesia- juga menyatukan
dua keluarga besar. Tentu ini
merupakan sebuah tantangan. Jadi, melihat perkawinan
bukanlah satu-satunya sumber
kebahagiaan, mungkin dapat
membuat kita memahami
kenyataan dan siap
menghadapinya. Toh, harmonis bukan berarti
keluarga tanpa pertengkaran
dan tidak harus selalu satu
kata seirama.
Yang terpenting, terimalah
perbedaan dari pasangan Anda dan pahami bahwa memang
ada masalah atau perbedaan
yang tak bisa terselesaikan
dan harus diterima sampai
kapanpun. Inilah bentuk
toleransi terbaik. Lima kiat tetap harmonis: 1. Ungkapkan harapan-
harapan Anda berdua secara
konkret dan terbuka.
Bicarakan dan sesuaikan
dengan perannya masing-
masing. Misal Dads sangat senang jika setiap bangun
tidur disediakan teh manis
hangat dan kudapan manis,
bukan hidangan berat seperti
nasi goreng atau bubur ayam. 2. Setiap pasangan bisa
berubah. Jadi, selalu luangkan
waktu untuk mengenal
pasangan dan mengetahui apa
yang saja berubah. Misal, dua
tahun lalu sang istri masih sering khawatir soal keuangan
namun tahun ini sudah bisa
mengaturnya lebih baik.
Bangun komunikasi positif dan
mau saling mendengarkan –
bukan berisi kritikan- agar semua masalah dapat
dibicarakan dengan tidak saling
menjatuhkan. 3. Cukup realistis, bukan hanya
menuntut melainkan saling
memberi. Realistis yang
dipahami adalah perkawinan
bukan hanya ada kebahagiaan
namun juga bertemu dengan konflik dan harus diselesaikan.
Diskusikan jika ada yang
diinginkan atau dituntut tapi
jangan lupa memberikan
peluang. Contoh, suami
menginginkan sang istri untuk tidak bekerja setelah menikah,
namun berikan peluang istri
untuk memilih sekolah atau les
si kecil. 4. Perlunya honeymoon kedua,
ketiga dan seterusnya.
Kehadiran si kecil bukan alasan
bagi Moms untuk tidak bisa
melakukan hal berdua saja
dengan Dads. Tak harus keluar negeri atau luar kota,
menikmati sehari bersama
suami dengan menonton film
atau makan makanan favorit
berdua saja sudah cukup. 5. Jika masalah tetap tidak
bisa teratasi meski sudah
banyak yang dilakukan dan
didiskusikan, tak ada salahnya
berkonsultasi dengan psikolog. (Sumber: Mom&Kiddie)
»»  Read More

Waspada Anak Terjebak Narkoba

SERING kali orangtua menutup mata atas permasalahan yang
layak mendapat perhatian.
Apabila Anda mencurigai anak
terlibat dalam penggunaan
obat-obatan terlarang
ataupun alkohol, jangan menampiknya. Anda malah harus sigap
mengambil tindakan sebelum
akhirnya menjadi masalah yang
lebih besar. “Saat usia anak
antara 13–18 tahun,
merupakan momen esensial bagi orangtua untuk terus
terlibat dalam kehidupan
anak,” kata Amelia M Arria
PhD, Direktur Pusat Kesehatan
dan Perkembangan Remaja di
Sekolah Kesehatan Masyarakat Maryland. Dikatakan Amelia, orangtua
bisa berpikir bahwa remaja
mereka yang mencoba
mengonsumsi minuman keras
merupakan suatu hal yang
lumrah. Sebab mereka pun ketika muda melakukan hal
yang sama. “Tapi perlu diingat,
risikonya lebih besar
sekarang,” katanya. Apalagi jika melihat dewasa ini
lebih banyak tersedia obat-
obatan baik yang legal maupun
ilegal, contohnya obat batuk
dengan kandungan DXM
(dextromethorphan) yang kini menjadi pilihan obat baru di
kalangan remaja. DXM mudah
didapat sementara remaja
maupun orang tua
meremehkan bahannya. Penelitian membuktikan 7-10
persen remaja di Amerika
Serikat dilaporkan
mengonsumsi obat batuk
untuk mendapatkan rasa
nyaman (high). Meskipun tidak berbahaya jika dikonsumsi
sesuai aturan, DXM dapat
menyebabkan halusinasi yang
sama dengan penggunaan PCP
atau ketamine jika dikonsumsi
berlebihan. Efek samping lain, tidak
sadarkan diri, sakit perut, dan
muntah. Karenanya,
perhatikan gerak-gerik anak
yang tidak wajar. Seperti
perubahan sikap, penampilan, prestasi akademik, dan teman
bergaul. Jika Anda menemukan kemasan
kosong obat batuk atau ada
obat yang hilang di lemari P3K
di rumah, ataupun menemukan
pil, pipa, sampai kertas yang
digulung dan korek api, curigai anak menggunakan obat
terlarang. Waspadai tanda ini dengan
serius dan segera ambil sikap.
Demi mengetahui kelakuan
negatif anak, orangtua bisa
jadi lepas kendali. Berbagai
hukuman pun diberikan dan rumah kini tidak lagi terasa
nyaman. Sebaliknya, ada juga
orangtua yang justru
menghindari konflik karena
takut si anak akan lari dari
rumah.
»»  Read More

Sabtu, 20 Agustus 2011

Orang Narsis Seringkali Merasa Iri

Kata narsis sering digunakan sebagai
istilah untuk menyebut orang
yang 'gila foto' dan
membanggakan diri sendiri.
Padahal, narsis merupakan penyakit mental yang si penderitanya seringkali merasa
iri dan menganggap orang lain
iri padanya. Narsis atau yang dalam istilah
ilmiahnya Narcissistic Personality
Disorder (NPD) adalahpenyakit mental ketika seseorang
memiliki rasa percaya diri yang
sangat tinggi untuk
kepentingan pribadinya dan
juga rasa ingin dikagumi. Menurut Diagnostic and
Statistical Manual of Mental
Disorders (DSM-IV-TR), orang
yang memiliki kepribadian
narsistik biasanya selalu merasa
lebih dari orang lain, butuh kekaguman yang berlebihan,
kurangnya empati dan iri hati. Tidak hanya sering merasa iri
pada orang lain, orang dengan
kepribadian narsistik juga
menganggap bahwa orang lain
merasa iri pada dirinya. Pada
orang narsistik juga sering muncul sifat sombong, arogan,
tanpa emosi dan merendahkan
orang lain, seperti dilansir Mayo
Clinic, Sabtu (20/8/2011). Narsis termasuk salah satu dari
tipepenyakit kepribadian. Seseorang yang menderita
gangguan narsis biasanya
diiringi juga dengan pribadi yang
emosional, lebih banyak
berpura-pura, antisosial dan
terlalu mendramatisir sesuatu. Namun, di balik topeng
kepercayaan diri yang tinggi
terdapat sebuah harga diri
yang rapuh dan sensitif
terhadap setiap kritik kecil. Hal
ini terjadi dengan sendirinya dan jika gangguan ini begitu
kuat sehingga mengasingkan
seseorang dari masyarakat,
maka perlu mengambil langkah-
langkah penyembuhan, seperti
melakukan psikoterapi. Diagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorders serta
American Psychiatric Association
menyebutkan beberapa gejala
dan kriteriapenyakit narsis, diantaranya : Mementingkan diri sendiri,
melebih-lebihkan prestasi dan
bakat yang dimiliki, berharap
dikenal sebagai orang unggul
tanpa ada hasil atau pencapaian
tertentu. Terlalu bangga dengan
fantasinya dan memiliki tujuan
yang tidak realistik tentang
keberhasilan yang tiada batas,
kekuatan, kepintaran,
kecantikan atau kisah cinta yang ideal.
Percaya bahwa dirinya sangat
spesial dan hanya bisa
bergabung atau bergaul dengan
orang-orang yang juga memiliki
status tinggi. Memerlukan pujian yang
berlebih ketika melakukan
sesuatu
Memiliki keinginan untuk diberi
julukan tertentu
Bersikap egois dan selalu mengambil keuntungan dari
setiap kesempatan untuk
mendapatkan apa yang
diinginkannya
Tidak memiliki perasaan empati
terhadap sesama Selalu merasa iri hati dengan
keberhasilan orang lain dan
percaya bahwa orang lain juga
iri padanya
Menunjukkan sifat arogan dan
merendahkan orang lain Mudah terluka, emosional dan
memiliki pribadi yang lemah.
»»  Read More

Minggu, 14 Agustus 2011

Keseimbangan Terjadi karena Manusia Berbagi

BILA semua yang ada di alam ini adalah wujud dari keseimbangan-Nya maka keseimbangan itu akan ada untuk semua yang nyata dan abstrak, fisik, maupun nilai-nilai.

Keseimbangan sudah pasti ada pula dalam segala aspek kehidupan sehingga yang terjadi adalah harmoni. Hal itu ada karena Allah SWT menciptakan semuanya dalam kadarnya, dalam keseimbangan yang paling sempurna atas apa yang diciptakan-Nya.

Kadar yang telah Dia lekatkan pada seluruh ciptaan-Nya juga adalah kekuatan atau ruh yang selalu mengarahkan segala yang tercipta kepada keseimbangan.

Begitu pula dalam perekonomian dan kerja bisnis. Keseimbangan juga ada agar roda sistem terus berputar dengan baik. Bahkan setiap kali ketidakseimbangan terjadi, maka kali itu pula ada kekuatan yang memulihkannya kembali.

Kekuatan atau ruh tersebut yang dinamakan oleh Adam Smith, bapak perekonomian kapitalis, sebagai the invisible hand atau tangan gaib. Ruh inilah yang menggerakkan segala sumber daya semesta, baik manusia atau sumber daya lainnya, untuk selalu menuju dan kembali pada keseimbangan.

Di negeri ini, saat bangunan besar perekonomian porak-poranda diterpa badai krisis 1997 hingga beberapa tahun sesudahnya, ketidakseimbangan terjadi pada segala bagian. Dalam era itu yang tetap bediri kokoh adalah sebagian kecil bangunan yang terdapat kadar keseimbangan di dalamnya. Sebut saja bagian itu adalah bangunan perekonomian yang bercorak dan mengandungi nilai-nilai syariah, seperti perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya.

Lebih jauh lagi yang tetap kokoh itu adalah bangunan ekonomi yang memiliki apa yang disebut oleh Umer Chapra sebagai Optimum Islami. Optimum Islami digambarkan sebagai keseimbangan pasar yang mencerminkan realisasi secara terus menerus tingkat efisiensi maupun keadilan yang optimal sesuai dengan maqashid syar’i.

Kini, ruh keseimbangan menuntun para pelaku ekonomi yang menginginkan adanya kebaikan, keharmonisan, dan kesinambungan dalam lapangan ekonomi. Akhirnya, sebagian dari mereka tertambat pada pesona bangunan ekonomi tipe ini yang nilai-nilai berbagi ada di dalamnya.

Ada bagi hasil dan bagi rugi dalam teknis bisnisnya, ada berbagi rezeki dari muzakki kepada mustahik dalam sektor kedermawanan illahiyahnya, dan ada berbagi sumber daya dalam kerja-kerjanya. Nilai-nilai berbagi inilah yang dalam tataran masif akan ikut berperan luar biasa dalam terciptanya Optimum Islami dengan segala keseimbangan di dalamnya.

Bila nilai berbagi telah tak dihiraukan lagi, bila keserakahan sudah membudaya dan keculasan telah menjadi “kebijakan” dalam berniaga dan bekerja, maka kekacauan dan kesemerawutan hidup akan merajalela. Keseimbangan akan pergi, seiring dengan sirnanya semangat berbagi. Namun sekali lagi, akan ada manusia-manusia yang akan akan menariknya kembali ke dalam keseimbangan. Bukahkah sudah seperti itulah kadarnya! Lalu apakah kita adalah sebagian dari manusia yang senantiasa mengarahkan daya dan upaya kita menuju ke keseimbangan itu?

Bagi saya, dan bagi anda yang mungkin berpikir keras tentang bagaimana Optimum Islami itu tercipta. Tak perlu risau akan apa yang bisa kita perbuat. Pahamlah bahwa keseimbangan sistem besar dan kesinambungannya ini akan ada dari hal-hal kecil yang kita perbuat dengan semangat berbagi di dalamnya.

Sebagaimana Zeno, seorang filsuf Yunani mengatakan, ”Bila sebutir gandum jatuh dan berbunyi, maka sekantung gandum yang jatuh akan berbunyi pula. Sebaliknya, bila sebutir gandum jatuh dan tak berbunyi, maka sekantung gandum yang jatuh tidak akan berbunyi pula”.

Dari yang hal kecil semuanya dimulai. Lakukanlah bisnis dan kerja dengan berbagi di dalamnya, dan pandanglah sekeliling dengan semangat berbagi karena keseimbangan itu ada dalam berbagi.
»»  Read More

Hindari Api Neraka Meski dengan Separuh Kurma

RASULULLAH SAW bersabda, “Setiap orang pasti akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. Saat itu tidak ada penerjemah antara keduanya. Dia melihat ke arah kanannya dan tidak menjumpai apa pun kecuali amal perbuatan yang selama ini diperbuat. Lalu dia melihat ke arah kirinya dan dia juga tidak menjumpai ap apun kecuali amal yang telah dia perbuat. Selanjutnya dia melihat ke arah depan dan dia tidak melihat apa pun kecuali api di hadapan wajahnya. Maka jauhilah api neraka walaupun hanya dengan separuh kurma.”

Lihatlah keagungan berinfak. Separuh buah kurma dapat menyelamatkan setiap muslim dari api neraka. Sampai-sampai seandainya tidak memiliki apa pun kecuali hanya sebuah kurma, kita harus membelahnya menjadi dua. Dimakan setengahnya dan setengahnya lagi diinfakkan kepada fakir miskin.

Perhatikanlah baik-baik, separuh buah kurma ternyata dapat menghindari dari kobaran api neraka. Benar, ada kesempatan yang dapat menyelamatkan dari api Jahannam yang kita semua berusaha untuk menghindarinya.

Jika demikian, apalagi yang ditunggu? Marilah kita berinfak! Sedekahkanlah barang yang paling disukai. Allah SWT berfirman: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah Mengetahui." (QS Ali Imran: 92).

Oleh karena itu, jangan biarkan satu hari pun berlalu kecuali telah berinfak. Ketahuilah, di sana ada segolongan umat manusia yang ketika telah berlalu satu hari dari mereka, dan mereka belum sempat berinfak, maka mereka pun merasa sedih.

Akan tetapi, di sisi lain kita juga mendapati segolongan manusia lainnya yang membiarkan waktu mereka berlalu begitu saja, satu bulan, dua bulan, bahkan hingga satu atau dua tahun. Mereka sedikitpun tidak pernah menyedekahkan harta mereka. Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." (QS At Taubah: 34).

Dari Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sedekah dapat memendam kemarahan Tuhanmu dan menghindarkan dari kematian yang jelek." (HR At Tirmidzi).

Oleh karena itu, jika dalam satu hari kita berbuat dosa, bersedekahlah, Jika suatu saat menyimpang dari ketaatan, bersedekahlah
»»  Read More

Rabu, 10 Agustus 2011

Dasyatnya Sedekah Dibulan Ramadhan

Kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya tak henti menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Pahala diobral, ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang dan waktu. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada rasa kecuali sumringah menyambut Ramadhan. Insan yang menyadari betapa dosa melumuri dirinya, tidak ada rasa kecuali bahagia akan kedatangan bulan Ramadhan.


Mukmin Sejati Itu Dermawan

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah. Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah. Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits:

‏إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)

Dari hadits ini demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pelit dan bakhil adalah akhlak yang buruk dan bukanlah akhlak seorang mukmin sejati. Begitu juga, sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‏اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة

“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)

Selain itu, sifat dermawan jika di dukung dengan tafaqquh fiddin, mengilmui agama dengan baik, sehingga terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), akan dicapai kedudukan hamba Allah yang paling tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالاً وعلماً فهو يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه، ويعلم لله فيه حقاً فهذا بأفضل المنازل

“Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rizqi oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik.” (HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: “Hasan shahih”)

Keutamaan Bersedekah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Terdapat ratusan dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaan orang-orang yang bersedekah. Ibnu Hajar Al Haitami mengumpulkan ratusan hadits mengenai keutamaan sedekah dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, meskipun hampir sebagiannya perlu dicek keshahihannya. Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah.

Diantara keutamaan bersedekah antara lain:

1. Sedekah dapat menghapus dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)

2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)

3. Sedekah memberi keberkahan pada harta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”

4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

5. Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)

6. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة برهان

“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)

An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”

7. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‏إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور

“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

8. Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة

“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)

9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit:

مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع

“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)

Dan hal ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada rasa senang, bangga, dada yang lapang setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah. Tidakkah hati kita terpanggil?

Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan

Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Dari hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dasarnya adalah seorang yang sangat dermawan. Ini juga ditegaskan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:

كان النبي صلى الله عليه وسلم أشجع الناس وأجود الناس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani dan paling dermawan.” (HR. Bukhari no.1033, Muslim no. 2307)

Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.

Oleh karena itu, kita yang mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Yaitu semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Salah satu sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya. Diantara keutamaan sedekah di bulan Ramadhan adalah:

1. Puasa digabungkan dengan sedekah dan shalat malam sama dengan jaminan surga.

Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang agung, bahkan pahala puasa tidak terbatas kelipatannya. Sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits qudsi:

كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به

“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim no.1151)

Dan sedekah, telah kita ketahui keutamaannya. Kemudian shalat malam, juga merupakan ibadah yang agung, jika didirikan di bulan Ramadhan dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

“Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.37, 2009, Muslim, no. 759)

Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadhan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

“Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946)

2. Mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain.

Kita telah mengetahui betapa besarnya pahala puasa Ramadhan. Bayangkan jika kita bisa menambah pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain, maka pahala yang kita raih lebih berlipat lagi. Subhanallah! Dan ini bisa terjadi dengan sedekah, yaitu dengan memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)

Padahal hidangan berbuka puasa sudah cukup dengan tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air, sesuatu yang mudah dan murah untuk diberikan kepada orang lain.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi, 696)

Betapa Allah Ta’ala sangat pemurah kepada hamba-Nya dengan membuka kesempatan menuai pahala begitu lebarnya di bulan yang penuh berkah ini.

3. Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan.

Salah satu keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan adalah bahwa di bulan mulia ini, setiap orang lebih dimudahkan untuk berbuat amalan kebaikan, termasuk sedekah. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia mudah terpedaya godaan setan yang senantiasa mengajak manusia meninggalkan kebaikan, setan berkata:

فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs. Al A’raf: 16)

Sehingga manusia enggan dan berat untuk beramal. Namun di bulan Ramadhan ini Allah mudahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة ، وغلقت أبواب النار ، وصفدت الشياطين

“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no.3277, Muslim no. 1079)

Dan pada realitanya kita melihat sendiri betapa suasana Ramadhan begitu berbedanya dengan bulan lain. Orang-orang bersemangat melakukan amalan kebaikan yang biasanya tidak ia lakukan di bulan-bulan lainnya. Subhanallah.

Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar. Karena yang mendasari keyakinan ini adalah hadits yang lemah, yaitu hadits:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،

“Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun.” Kemudian para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah (no. 1887) dan Al Ash-habani dalam At Targhib (178). Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115), juga oleh Dhiya Al Maqdisi di Sunan Al Hakim (3/400), bahkan dikatakan oleh Al Albani hadits ini Munkar, dalam Silsilah Adh Dhaifah (871).

Ringkasnya, walaupun tidak terdapat kelipatan pahala 70 kali lipat pahala ibadah wajib di luar bulan Ramadhan, pada asalnya setiap amal kebaikan, baik di luar maupun di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah 10 sampai 700 kali lipat. Berdasarkan hadits:

‏إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

“Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim no.1955)

Oleh karena itu, orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat karena sedekah adalah amal kebaikan, kemudian berdasarkan Al A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah. Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah. Lalu jika ia mengiringi amalan sedekahnya dengan puasa dengan shalat malam, maka diberi baginya jaminan surga. Kemudian jika ia tidak terlupa untuk bersedekah memberi hidangan berbuka puasa bagi bagi orang yang berpuasa, maka pahala yang sudah dilipatgandakan tadi ditambah lagi dengan pahala orang yang diberi sedekah. Jika orang yang diberi hidangan berbuka puasa lebih dari satu maka pahala yang didapat lebih berlipat lagi. Subhanallah…

Ayo jangan tunda lagi…
»»  Read More

Senin, 08 Agustus 2011

Menahlukan Krisis Percaya Diri

Menjadi pribadi yang memiliki
krisis percaya diri memang tidak
enak. Pertama kita sering
korban perasaan sendiri.
Omongan orang lain sering kali
dirasakan merendahkan diri kita. Saat kita berbicara tetapi tidak
ditanggapi merasa dilecehkan.
Mudah tersinggung. Bahkan ada
yang sibuk untuk terus menerus
menjelekkan orang lain yang
dianggap saingan. Yang kedua, masalah krisis
percaya diri bisa menjadikan kita
memiliki ketakutan yang luar
biasa. Ketakutan ini akan
menyebabkan kita tidak mau
mengambil tindakan yang beresiko. Bahkan sekecil apa pun
resiko itu. Akibatnya, akan
kehilangan banyak peluang. Apa yang menyebabkan kiris
percaya diri? Lingkungan Mungkin
Mempengaruhi Tidak dipungkiri, sikap orang-
orang yang ada di lingkungan
kita bisa mempengaruhi
kepercayaan diri kita. Sering kali,
orang-orang di sekitar kita
menyikapi kegagalan atau kekurangan kita dengan cara
yang tidak baik. Misalnya
mengejek kegagalan kita,
membicarakan kekurangan kita
di depan orang lain, atau
membesar-besarkan kekurangan atau kegagalan kita. Hal seperti
ini mungkin terjadi karena sikap
masyarakat terhadap kegagalan
dan kekurangan masih perlu
diperbaiki. Penyebab Utama Adalah
Diri Sendiri Meski pun lingkungan bisa
menyebabkan kita mengalami
krisis percaya diri, namun
sesungguhnya penyebab
utamanya itu adalah diri sendiri.
Kuncinya ialah bagaimana Anda menyikapi lingkungan Anda. Jika
Anda “termakan” oleh omongan
lingkungan, maka Anda akan
rendah diri. Namun jika Anda
“merdeka” maka apa pun yang
dikatakan oleh lingkungan Anda tidak akan pernah mempengaruhi
diri Anda. Anda mungkin salah, tetapi
bukan berarti Anda orang yang
selalu salah. Kesalahan bisa
diperbaiki. Begitu juga dengan
kegagalan. Anda mungkin pernah
gagal, tetapi bukan berarti Anda adalah orang gagal. Anda hanya
pernah gagal. Dan kita tahu,
semua orang pernah salah dan
semua orang pernah gagal.
Termasuk manusia terbaik
sepanjang masa, Nabi Muhammad saw. Beliau pernah salah dan
pernah gagal. Itu adalah
manusiawi. Kenapa harus merasa
rendah diri? Opini dan Fakta Saat ada yang mengatakan
bahwa Anda tidak becus, baik itu
datang dari diri sendiri maupun
dari orang lain, percayalah
bahwa itu hanya opini. Anda
gagal adalah fakta, tetapi Anda disebut orang yang payah, itu
adalah opini. Dan, jangan lupakan
dengan satu fakta lagi, bahwa
manusia diciptakan dengan
potensi yang sama. Allah tidak
pernah membeda-bedakan tugas dan perintah kepada manusia,
sebab potensi manusia itu sama
dahsyatnya. Jadilah Diri Yang
Merdeka Artinya merdeka dari opini
negatif baik dari diri sendiri
maupun dari orang lain. Coba
tonton video ketiga The Confidence Secret, saya menjelaskan lebih jauh tentang
menjadi merdeka di video ini. Anda Itu Hebat Cobalah Anda renungkan. Apa
keberhasilan yang pernah Anda
raih? Apa kemampuan yang Anda
miliki yang tidak dimiliki oleh
orang lain. Saya yakin, Anda
memilikinya. Bisa saja, Anda tidak hebat di
satu bidang, tetapi Anda hebat
di bidang lain. Begitu juga dengan
orang lain. Sebab pada dasarnya
semua manusia memiliki tingkat
yang sama. Atau Anda pun bisa menciptakan
pengalaman hebat yang baru.
Pilihlah sebuah tantangan, dan
taklukan tantangan tersebut.
Percaya diri bisa bangkit setelah
Anda mampu menaklukan tantangan.
»»  Read More

Senin, 01 Agustus 2011

Ganjaran untuk Orang yang Berpuasa

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR. Muslim no. 1151)

Dalam riwayat lain dikatakan,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.’” (HR. Bukhari no. 1904)
Dalam riwayat Ahmad dikatakan,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa
Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.
Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)
Sabar itu ada tiga macam yaitu [1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, [2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan [3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar.
Amalan Puasa Khusus untuk Allah
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.” Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.
Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?
[Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan  ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu.
Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.” Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.
[Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.
Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga
Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku.”
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.”
Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga.
Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga.
Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa
Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”
Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi.
Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (Qs. Al Muzammil: 20)
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (Qs. Ali Imron: 30)
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (Qs. Az Zalzalah: 7)
Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah
Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”
Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.
Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:
[Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan.
[Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut  muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.
Inilah beberapa keutamaan amalan puasa. Inilah yang akan diraih bagi seorang hamba yang melaksanakan amalan puasa yang wajib di bulan Ramadhan maupun amalan puasa yang sunnah dengan dilandasi keikhlasan dan selalu mengharap ridho Allah. Semoga kita dapat meraih beberapa keutamaan di atas dari amalan puasa Ramadhan yang kita lakukan nanti. Semoga Allah memberi kita selalu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib dan amalan yang diterima.
»»  Read More

Hikmah di Balik Puasa Ramadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.
1. Menggapai Derajat Takwa
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.
Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.
Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.
Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa. Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.
2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia
Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
“Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.
Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:
Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika  berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.
Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.
Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya  pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.
Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.” Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian.
3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik
Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”
Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah. Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.
Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”
Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”
Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”
4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka
Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.
Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.
Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.
Hikmah Puasa yang Keliru
Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.
Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”
Adapun hadits yang mengatakan,
صُوْمُوْا تَصِحُّوْا
“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.
Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.
»»  Read More

Minggu, 31 Juli 2011

Puasa Karena Iman dan Ikhlas

“Barangsiapa berpuasa karena iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
Kalimat di atas adalah maksud dari hadits Abu Hurairah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22). Intinya, puasa yang dilandasi iman dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu.
Salah seorang ulama di kota Riyadh, Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddady hafizhohullah memberikan faedah tentang hadits di atas:
1. Amalan yang dilakukan seseorang tidaklah manfaat sampai ia beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah (baca: ikhlas). Jika seseorang melakukan amalan tanpa ada dasar iman seperti kelakuan orang munafik atau ia melakukannya dalam rangka riya’ )(ingin dilihat orang lain) atau sum’ah (ingin didengar orang lain) sebagaimana orang yang riya’, maka yang diperoleh adalah rasa capek dan lelah saja. Kita berlindungi pada Allah dari yang demikian.
2. Sebagaimana orang yang beramal akan mendapatkan pahala dan ganjaran, maka merupakan karunia Allah ia pun mendapatkan anugerah pengampunan dosa -selama ia menjauhi dosa besar-.
3. Keutamaan puasa Ramadhan bagi orang yang berpuasa dengan jujur dan ikhlas adalah ia akan memperoleh pengampunan dosa yang telah lalu sebagai tambahan dari pahala besar yang tak hingga yang ia peroleh.
4. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang lain, pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini adalah pengampunan dosa kecil. Adapun pengampunan dosa besar maka itu butuh pada taubat yang khusus sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, maka itu akan menghapuskan dosa di antara dua waktu tadi selama seseorang menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim).
Semoga amalan puasa kita bisa membuahkan pengampunan dosa yang telah lalu.
»»  Read More

Ramadhan Dan Perbaikan Diri

Bulan Ramadhan… tak lama lagi menjumpai kita… Perasaan gembira dan rindu meliputi jiwa orang-orang yang beriman. Menantikan malam-malam yang khusyu’ dengan lantunan ayat-ayat al-Qur’an dan dzikir kepada ar-Rahman…
Pembaca yang dimuliakan Allah… Sudah menjadi tabiat dan karakter orang-orang yang beriman untuk merasa senang dengan ketaatan dan merasa sedih dengan kemaksiatan. Sebagaimana aqidah yang dipegang teguh oleh Ahlus Sunnah, bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan, dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.
Keimanan dengan segala cabangnya adalah bagian tak terpisahkan dalam hidup umat Islam. Sebaliknya, kekafiran dengan segala cabangnya adalah perusak dan pengganggu ketentraman hidup mereka. Maka kedatangan bulan Ramadhan di setiap tahun merupakan penyejuk hati dan penentram perasaan. Dengan kesejukan suasana Ramadhan, umat manusia dilatih untuk mengendalikan berbagai keinginan nafsunya. Ia ditundukkan, digembleng dan dibina dalam rangka taat dan mendahulukan kecintaan Rabbnya di atas segala-galanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.” (HR. Muslim)
Keimanan itulah yang menjadi syiar hidup mereka. Mereka hidup dan mati di atasnya, bergerak dan diam karenanya, ruku’ dan sujud dengannya, harap dan takut karenanya, cinta dan benci pun karenanya. Iman itulah yang menggerakkan persendian hidup mereka. Karena itulah, tatkala noda maksiat dan kotoran dosa merusak hati dan pikiran mereka, mereka pun merasa terganggu dan tidak nyaman dengannya. Mereka sangat menyadari bahwa lunturnya nilai-nilai keimanan merupakan bencana bagi kehidupan mereka, di dunia sebelum nanti di akhirat… wal ‘iyadzu billaah…
Jadi tidak heran, jika sahabat Abdullah bin Mas’ud memberikan gambaran dua sikap yang sangat berlainan, antara orang yang menjaga nilai-nilai keimanan dengan orang yang telah terbuai dan terbius dengan racun-racun kekafiran. Beliau berkata, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah sebuah gunung, dia khawatir kalau gunung itu akan runtuh menimpanya. Adapun orang yang fajir/munafik melihat dosa-dosanya seperti lalat saja, yang mampir di atas hidungnya, lantas dengan ringannya dia halau lalat tersebut -dengan tangannya-.” (HR. Bukhari)
Sehingga momentum Ramadhan dengan ibadah puasanya, adalah kesempatan emas bagi orang yang merasa memiliki dosa di hadapan Tuhannya. Karena apabila dosa-dosa itu tidak diampuni, tentulah ia akan membuahkan penyesalan, kesedihan, dan rasa takut kelak di hari pembalasan… Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah ibadah agung yang dinantikan itu… Seorang mukmin, tak akan melewatkan kesempatan emas ini. Baginya, dunia seisinya tidak ada artinya dibandingkan ampunan dan rahmat Allah ta’ala. Inilah kenikmatan hakiki dan kebahagiaan yang sejati. Karena dengan puasa, seorang hamba akan berjuang untuk menjadi sosok yang bertakwa. Dan dengan ketakwaan itulah, seorang manusia akan menjadi mulia dan dicintai oleh Rabb alam semesta.
Ramadhan ada di hadapan, bekali diri kita dengan ilmu dan iman, tuk menyambut bulan yang agung, bulan yang penuh kebaikan, bulan yang menjadi penghibur hati orang-orang yang beriman.
»»  Read More

Kamis, 21 Juli 2011

TANDA IMAN SEDANG LEMAH


Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah:

1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.

Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, “Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseirang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,’ padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya.” (Bukhari, 10/486)

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)

2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah:74)

3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum’at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)

Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. “Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”

Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.

5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, “Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)

6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.

Ketahuilah, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal:2)

7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, “Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)

8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.

Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).

Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)

Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, “Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya.” (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)

Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729)

“Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil.” (Shahihul Jami, 1420).

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)

“Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?” tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong.” (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)

10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (Shahihul Jami’, 2678)

11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (Ash-Shaff:2-3)

Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.

12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal.

Ingatlah! Kata Rasulullah saw, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Orang Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya.” (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)

13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya.” (Muslim, hadits nomor 1599)

Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, “Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!” Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.

14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., “Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya.” (Silsilah Shahihah, nomor 1352)

Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga.” (Bukhari, hadits nomor 593)

15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, “Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala.” (Silsilah Shahihah, nomor 1137)

16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. “Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)

17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah.” (Ash-Shaff:14)

18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji.” (Al-Ankabut:2)

Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim)

19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. “Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan.” (Shahihul Jami’, nomor 5633)

20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, “Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir.” (Muslim)

21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda.

Bukankah Allah swt. telah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Israa’:53)

Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (Al-Qashash:55)

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)

22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.

Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’:26)

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).
»»  Read More

Pengikut

 

Fan Page

Label